Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dari Limbah Perca

Berkat ketelatenannya, masyarakat pun percaya bahwa limbah perca mampu menopang ekonomi penduduk desa jika diolah dengan kreatif. Ibu-ibu di Desa Wonoyoso, Kabupaten Semarang layak menjadi contoh. Di sana seolah-olah tidak ada istilah “sisa”. Karena dari sisa waktu yang mereka punya setelah mengurus keluarga, mereka mengolah sisa kain atau perca demi membantu perekonomian keluarga.

Baca juga : Distributor Jual Genset di Jakarta

Industri kerajinan ini awalnya merupakan solusi masalah pengangguran yang merebak akibat krisis ekonomi di tahun 1998. Kebetulan di sekitar desa tersebut terdapat banyak limbah perca sisa dari beberapa industri garmen. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Anna Sulistyarini (42), pengurus yang juga dipercaya sebagai Pengelola Koperasi Wanita Melati Desa Wonoyoso, Pringapus, Kabupaten Semarang.

Di koperasi ini tergabung 200 orang perajin yang sebagian besar adalah perajin keset. Rini, yang merupakan pendatang di desa ini, bergabung di koperasi pada tahun 2006 dan langsung dipercaya sebagai sekretaris atas dasar kebetulan. “Kebetulan hanya saya yang lulusan SMEA, sedangkan lainnya kebanyakan lulusan SD dan SMP,” tutur Rini mengenang. Tidak Menyia-nyiakan Kesempatan Tak lama kemudian, ia ditunjuk menjadi pengelola Koperasi, menggantikan Rohprihati yang terpilih sebagai anggota DPRD, Kabupaten Semarang, karena keberhasilannya mengatasi pengangguran dan memberdayakan masyarakat.

Rini menjaga kepercayaan ini. Ia berusaha agar koperasi yang saat itu sudah maju jangan sampai menjadi mundur akibat salah kelola. Rini pun membuat berbagai terobosan agar keset bisa memiliki nilai lebih. Para perajin diikutkan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan sehingga bisa memenuhi standar kualitas agar produknya bisa dihargai lebih tinggi.

Strategi lainnya adalah variasi model. “Setiap dua bulan sekali harus ada produk baru agar pasar tidak bosan,” ujar penyuka traveling ini. Keset yang semula hanya polos berbentuk bundar dan oval, ditambah variasinya dengan jenis bermotif, misalnya berbentuk bunga, kupu-kupu, dan lebah. Pola karakter Hello Kitty dan Angry Bird pun dikembangkan.

Atas perantara PNM (Permodalan Nasional Madani), ia bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), mengembangkan keset semimotif yang diberi merek Kesetkibee. Produk inovatif ini menuai banyak pujian dari berbagai kalangan dan bisa dijual tiga kali lebih mahal dari harga keset biasa karena desainnya bak karya seni. Kini sekitar 7.200 keset beragam jenis dihasilkan setiap bulannya.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *