Mengapa Harus Berteriak Bag2

Woelan mengatakan, untuk menyikapi teriakan si kecil, alangkah baiknya Mama Papa mendekati dan meminta maaf karena sebelumnya sedang sibuk sehingga tidak mendengar permintaan anak. Kemudian, dengan kata-kata lembut, kita dapat menanyakan apa yang diinginkan anak.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Mama Papa juga perlu introspeksi, apa mungkin selama ini kebiasaan di lingkungan si kecil mengajarkannya untuk berteriak ketika meminta sesuatu. Umpama, ia belajar dari cara orang dewasa di sekitarnya menyuruh si Mbak di rumah, atau ketika kakaknya bermain dengan teman-temannya, atau anggota keluarga lain yang memang bersuara keras di rumah. Anak kecil adalah peniru ulung, lo.

 

Berteriak Yang Tepat

Para ahli sepakat, anak yang doyan berteriak belum tentu adalah anak yang ekspresif. “Mengingat anak berteriak karena bermacam sebab, seperti ingin mendapat perhatian, karena melihat orangtuanya berbicara dengan orang lain atau asyik menonton televisi atau main hape, atau cemburu melihat kebersamaan mama papanya dengan adik atau kakaknya,” ujar Woelan.

Anak yang ekspresif bukan ditunjukkan dengan teriakan, tapi respons yang diberikan atas semua perilaku yang didapat anak. Contoh, tertawa ketika merasa senang atau menangis saat merasa sedih. Anak yang tidak ragu menampilkan emosinyalah yang disebut anak ekspresif. Karena itu, kita perlu mengajari anak untuk menempatkan teriakannya ke dalam porsi yang tepat.

Anak, misalnya, dapat berteriak ketika mencapai tujuan. Ketika mengikuti lomba lari dan berhasil menyelesaikan hingga garis finish, maka anak dapat berteriak mengungkapkan kesenangannya. Atau, anak dapat berteriak ketika terkejut. Saat sedang berjalan-jalan di kebun kemudian melihat seekor katak yang secara tiba-tiba melintas di hadapannya. Atau ketika bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak dijumpai.

Jika anak suka berteriak, bukan tidak mungkin orang dewasa yang ada di sekitarnya justru mengabaikan karena menganggap si anak memang “hobi” berteriak. Hal ini justru bisa menyulitkan pada waktu si anak berteriak karena bahaya yang membutuhkan pertolongan dengan segera. Jadi, tanamkan padanya bahwa ia perlu berteriak yang benar, di saat yang tepat. Mengajarkan berteriak di situasi tepat penting bagi si batita, sebab berteriak sesungguhnya bukan bentuk komunikasi sehari-hari.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *