Ketika Janin Terdeteksi Cacat Bag2

Contoh, pada kasus sumbing bibir yang tidak disertai cacat organ tubuh lainnya, kehamilan dapat dilanjutkan dan bayi dapat dilahirkan seperti bayi normal lainnya, lalu selanjutnya berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah anak mengenai cara penanganan sumbing bibir.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Sedangkan bila diketahui janin mengalami cacat bawaan berat dan lebih dari satu sehingga dimungkinkan tidak dapat bertahan hidup setelah lahir, tidak memungkinkan dilakukan pengobatan atau tidak ada cara penanganan khusus pada cacat bawaan tersebut, serta dapat membahayakan nyawa Mama, maka pilihan untuk mengakhiri kehamilan perlu dipertimbangkan. Contoh, pada kasus anensefalus atau janin tidak membentuk tulang tempurung kepala dan kasus body stalk anomalies atau cacat multi organ mayor yang tidak memungkinkan dilakukan tindakan pengobatan pada bayidan bayi pun tidak dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Diskusi dan konseling sebelum melakukan pengakhiran kehamilan perlu dilakukan dengan melibatkan berbagai ahli selain dokter obgin, seperti ahli genetik, ahli psikologi, dan tokoh agama.

Selain itu, sebaiknya Mama Papa mencari beberapa opini dokter dan ahli kesehatan yang terkait, tidak hanya percaya pada satu opini dokter saja. Carilah nasihat medis lainnya dengan melalui berbagai pemeriksaan akurat. Meski tindakan pengakhiran kehamilan atas dasar indikasi medis dibenarkan oleh undang-undang (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009), Mama Papa perlu berdiskusi dan berkonsultasi dengan para ahli sehingga tindakan pengakhiran kehamilan tersebut tidak hanya berdasarkan indikasi medis, akan tetapi juga tidak melanggar norma etika, agama, dan hukum.

BIJAK MENGHADAPI KENYATAAN Tak mudah memang menghadapi kenyataan pahit ini, Ma. Perasaan sedih, kecewa, marah, penolakan, bahkan rasa bersalah sering kali muncul saat mengetahui sang janin menderita cacat bawaan. Menurut Anna Surti Ariani, SPsi., MSi., ada beberapa kondisi psikologis yang mungkin terjadi ketika seseorang mendapatkan berita yang sangat buruk. Pertama, biasanya kita akan menyangkal kenyataan yang ada. Kedua, bargaining. Di fase ini biasanya kita akan melakukan negosiasi atau tawar-menawar dengan kondisi tersebut, semisal berjanji pada Tuhan akan menjadi seseorang yang lebih baik asalkan kabar duka tersebut tak jadi nyata.

Sumber : https://pascal-edu.com/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *